BPS: Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen Year-on-Year

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan, dengan sektor Pengadaan Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan tertinggi.

Redaksi Publik Bijak5 Agustus 2026 pukul 16.00 WIBDiperbarui 10 Agustus 2026 pukul 18.46 WIB
BagikanWhatsAppXFacebook
BPS: Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen Year-on-Year

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026. Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat Rp6.552,1 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.

Secara tahunan (year-on-year), perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen, sementara secara kuartalan (quarter-to-quarter) tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I-2026. Sektor Pengadaan Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen, mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi yang beriringan dengan kebutuhan energi domestik.

Data ini menjadi salah satu indikator utama yang dipantau pemerintah dan otoritas moneter dalam merumuskan kebijakan fiskal dan moneter ke depan.

Baca selengkapnya di Badan Pusat Statistik

Capaian ini melanjutkan tren positif dari triwulan sebelumnya: pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen (yoy), melampaui target pemerintah 5,5 persen dan didorong lonjakan belanja pemerintah (21,81 persen), penguatan konsumsi rumah tangga (5,52 persen) berkat momentum Ramadan-Idulfitri, serta kenaikan investasi (5,96 persen).

Meski capaian dua triwulan berturut-turut berada di atas 5 persen, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa sebagian pendorong pertumbuhan bersifat musiman (stimulus fiskal dan hari raya), sementara konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur PDB — menandakan investasi dan ekspor belum sepenuhnya mengambil alih peran sebagai motor pertumbuhan jangka panjang.

Sumber

Badan Pusat Statistik · dipublikasikan asli pada 5 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB

Buka artikel sumber asli

Artikel ini dikurasi dan diklasifikasikan dengan bantuan AI dari sumber resmi pemerintah — bukan ditulis AI dari nol maupun hasil reportase Publik Bijak. Ringkasan ditulis ulang oleh AI, kutipan resmi ditampilkan apa adanya dari sumber. Pelajari selengkapnya di Kebijakan AI kami.

Artikel Terkait

Lainnya dari Badan Pusat Statistik (BPS)

Lihat semua