Kemarau Agustus 2026: BNPB Catat Puluhan Kejadian Karhutla, Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

BNPB mencatat puluhan kejadian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah sepanjang musim kemarau Agustus 2026, sekaligus menggelar operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan merespons lonjakan titik panas.

Redaksi Publik Bijak9 Agustus 2026 pukul 16.00 WIBDiperbarui 10 Agustus 2026 pukul 18.46 WIB
BagikanWhatsAppXFacebook
Kemarau Agustus 2026: BNPB Catat Puluhan Kejadian Karhutla, Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 34 kejadian bencana di wilayah Indonesia pada awal Agustus 2026, didominasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring puncak musim kemarau. Sejumlah lokasi karhutla tercatat di Pinrang (Sulawesi Selatan), Ponorogo dan Trenggalek (Jawa Timur), serta Banyumas (Jawa Tengah).

Merespons lonjakan titik panas di Sumatera Selatan—dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik pada 3 Agustus berdasarkan pemantauan satelit NASA NOAA20—BNPB menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama tujuh hari mulai 4 hingga 10 Agustus 2026 di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Selain karhutla, BNPB juga mencatat kejadian banjir di Tapanuli Tengah serta angin puting beliung yang merusak 67 unit rumah di 10 kecamatan Deli Serdang.

Jawa Tengah dan Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla untuk mengantisipasi eskalasi lebih lanjut sepanjang musim kemarau.

Baca selengkapnya di BNPB

Secara historis, luas karhutla nasional versi data resmi pemerintah sempat turun tajam dari 1,1 juta hektare (2023) menjadi hanya 24.154 hektare pada 2024 (turun 74 persen). Namun tren berbalik naik pada 2026: luas areal karhutla periode Januari-Juni 2026 tercatat 107.465 hektare, melonjak 120 persen dibanding periode sama 2019 dan 366 persen dibanding 2025 — mengindikasikan eskalasi risiko kebakaran musim kemarau tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Perlu dicatat, terdapat disparitas antara data resmi pemerintah dan estimasi lembaga independen seperti Greenpeace Indonesia, yang pada 2023 mengklaim luas karhutla riil mencapai 2,13 juta hektare — hampir dua kali lipat data resmi. Perbedaan metodologi pemantauan ini menjadi salah satu perdebatan dalam menilai efektivitas penanganan karhutla dari tahun ke tahun.

Sumber

Badan Nasional Penanggulangan Bencana · dipublikasikan asli pada 9 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB

Buka artikel sumber asli

Artikel ini dikurasi dan diklasifikasikan dengan bantuan AI dari sumber resmi pemerintah — bukan ditulis AI dari nol maupun hasil reportase Publik Bijak. Ringkasan ditulis ulang oleh AI, kutipan resmi ditampilkan apa adanya dari sumber. Pelajari selengkapnya di Kebijakan AI kami.

Artikel Terkait

Lainnya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Lihat semua